Kamis, 25 November 2010

Kaligrafi dan Goresan Kuas Terakhirku

Seni Kaligrafi dan Seni Lukis menjadi bagian kisah masa lalu yang indah. Berawal dari kekaguman atas tulisan Ahlan wa Sahlan diatas pintu asrama di Ma'had Darul Hikam Ponorogo, coret-coret jail dengan tulisan arab dimulai. Papan tulis, buku tulis, kertas, dan tembok pun menjadi media "alternatif".

Masih ingat benar masa masa awal mengerti indahnya tulisan arab, waktu itu guru yang sekaligus menjadi wali kelas memberi teguran, karena tulisan tugas yang aku kumpulkan susah dibaca. Buset dah.. udah nulisnya aja susah payah aku pake gaya-gaya bukannya dapat pujian, malah makian, katanya tulisan ga bisa dibaca, lalu menyuruhku memakai tulisan yang biasa aja.

Beruntung, semangat itu ga langsung ilang gara-gara teror wali kelas, setiap berada di asrama pondok, entah kenapa setiap di berada di pondok, tulisan-tulisan arab yang ada seolah-olah mendorong untuk terus mencoret-coret, dan hasilnya menginjak kelas 5 Aliyah (setara dengan kelas 2 SMA), ketika ada kegiatan organisasi, teman-teman selalu menempatkanku di bagian dekorasi, jadi pas banget dengan kebiasaan coret-coretku.

Setelah lulus Aliyah, aku kira dunia kaligrafi akan selesai juga, namun ternyata ketika masuk kampus, ada juga organisasi yang menampung kaligrafer-kaligrafer kampus bernama JQH Al-Mizan. Bisa ditebak, ga lama kemudian aku join bersama organisasi tersebut. Kesan pertama masuk, wah, so excited bisa join Al-Mizan, keindahan karya-karya mahasiswa tampak di dinding markas Al-Mizan. Namun sayang, keaktivan untuk belajar di organisasi itu terbentur dengan kegiatan mencari sesuap nasi.

karya pameran X-otic Hati, ga sempet kasi pigura, reek...

Walaupun jarang aktif, Al-Mizan tetep memberi ruang anggotanya untuk membuat karya. Pernah dua kali aku ikut pameran kaligrafi. Pameran pertama bertemakan X-otic Hati dan Pameran Lukis Genius. Kedua pameran tersebut diadakan oleh Al-Mizan bersama UIN Sunan Kalijaga. Pameran yang pertama merupakan pameran kaligrafi pertama yang pernah ku ikuti, dan yang ke-dua juga merupakan pameran yang kedua kali.

Dari kedua pameran tersebut, pameran kedualah yang paling berkesan, selain berbekal cat dan kanvas sisa, surat permohonan baru nyampe ditangan 4 hari sebelum hari pengumpulan, empat hari untuk berimajinasi, melukis dan membingkai. Pekerjaan lebih ekstra lagi karena pameran tersebut bersamaan dengan pentas Drama Bahasa Arab untuk menyambut mufti Syiria yang datang ke kampus.

Huahh.. syukurlah, padatnya kegiatan latihan drama dan membuat karya lukis ga sampe membuatku pingsan, namun imbasnya cukup menyakitkan. pentas drama yang tadinya dijadwalkan sebelum ujian akhir semester, diundur bertepatan dengan ujian, dan hasilnya nilai salah satu mata kuliah pun tak dapat diselamatkan.

karya pameran ke-dua, nampang dulu ah.. sebelum pentas drama

Karyaku di pameran tersebut tampaknya akan menjadi karya kaligrafi lukis terakhir. Bukan karena terselip pengalaman pahit namun karena waktu dan kebutuhan hidup yang bagiku adalah hal yang tidak bisa ditinggalkan. so, terimakasih banyak Al-Mizan. Good bye Kaligrafi. *ngusap air mata.

0 comments:

:ilovekaskus :iloveindonesia :kiss :maho :najis :nosara :marah :berduka :malu :ngakak :takut :ngacir2 :shakehand2 :bingung :cd :hammer :peluk :toast :hoax :cystg :dp :selamat :thumbup :2thumbup :matabelo :mewek :request :sorry :kr :travel :nohope :ngacir :ultah :cool :bola :hn :games :kbgt: :cd:

Posting Komentar